Diguyur hujan deras, bahu jalan di Tieng Longsor

Diguyur hujan deras, bahu jalan di Tieng Longsor
 
WONOSOBO – Bahu jalan menuju kawasan Dieng, tepatnya setelah gardu pandang, Desa Tieng, Kejajar mengalami longsor kemarin (19/2) sekitar pukul 13.30 WIB.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa itu, namun ratusan pengguna jalan ke arah dieng dan sebaliknya terganggu lantaran jalur tidak bisa dilalui. “Sebelum terjadi longsor di jalur itu, kawasan dieng memang sempat diguyur hujan deras selama hampir dua jam, belakangan ini hujan deras memang kerap muncul di sore hari, kemungkinan longsor itu dipicu oleh derasnya air hujan,” ungkap Camat Kejajar Iwan Widianto usai memantau lokasi longsor kemarin

Meski longsor disebut masih jauh dari pemukiman, pihaknya bersama kepolisian, TNI dan BPBD setempat tetap berusaha menyampaikan himbauan agar masyarakat mewaspadai potensi-potensi longsor di seputar kawasan Desa Tieng.

“Untuk keamanan para pengguna jalan, Polisi juga melakukan pengamanan di tepi jalan, serta untuk sementara akan diberlakukan buka tutup arus kendaraan dari dan menuju Dieng,” lanjut dia.

Sedangkan untuk Petugas dari BPBD dan warga setempat membantu polisi berjaga di lokasi longsor, selain untuk mengamankan pengguna jalan, juga demi memantau potensi kejadian serupa di sekitarnya. “Penyingkiran matrial longsor berupa tanah, batu dan lumpur dari jalan utama dilakukan oleh warga bersama, polisi, TNI, SAR dan BPBD secara manual untuk membuka jalan agar bisa dilalui kembali,” katanya

Selain itu, pihaknya mengaku telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait setelah mendapat laporan terjadinya longsor di desa Tieng. “Untuk langkah pengamanan kami telah berkomunikasi dengan jajaran Polsek Kejajar, serta BPBD,” tandasnya.

Kepada segenap masyarakat di sekitar lokasi longsor, pihak Kecamatan juga mengaku telah menyampaikan imbauan dan informasi agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan adanya longsor di sekitar lingkungan tempat tinggal mereka. “Kita imbau semua waspada, setiap sore turun hujan deras dengan intensitas tinggi, kemungkinan bisa muncul longsor susulan,” katanya (gus)
 

Penggunaan Pestisida di Dataran Tinggi Dieng Berlebih


Dataran tinggi Dieng terkenal akan tanaman kentangnya. Tanaman ini mulai dikenal petani tahun 1980-an dan telah mampu mengangkat taraf hidup masyarakat setempat hingga sekarang. Tetapi hal ini tidak sebanding dengan penggunaan pestisida yang berlebihan di daerah yang dijuluki negeri di atas awan tersebut.

Keadaan ini diiyakan oleh Tafrihan selaku relawan lingkungan Bhineka Dieng. Menurutnya, penggunaan pestisida yang berlebih di kawasan dataran tinggi Dieng berdampak pada tanah di daerah tersebut.

“Penggunaan pestisida dan obat-obatan yang berlebihan telah membuat unsur hara di tanah makin berkurang dan tanah makin tandus. Ditambah lagi dengan penggundulan hutan yang marak terjadi sejak zaman reformasi membuat lahan pertanian semakin gersang” ungkapnya.

Menanggapi penggunaan pestisida yang berlebih, Anggota DPRD Wonosobo dari fraksi PDIP, Wahyu Nugroho menjelaskan peredaran dan penggunaan pestisida perlu diawasi dan diwaspadai karena masih mengkhawatirkan.

“Hasil monitoring tim pemulihan lingkungan Dieng menunjukkan, hingga saat ini perdagangan pestisida masih mengkhawatirkan baik untuk kesehatan maupun untuk lingkungan. Penggunaan pestisida di Dataran Dieng perlu diwaspadai, sosialiasi pola pemeliharaan tanah secara organik perlu dilakukan serius kepada masyarakat. Dalam pantauan kami, di Kecamatan Kejajar terdapat puluhan pedagang menjual pestisida di lingkungan pemukiman penduduk” kata Wahyu ketika diwawancarai di gedung DPRD Wonosobo (20/2).

Menurut Wahyu, perlu adanya gerakan bersama sadar sehat dan pengamanan tanah dari pestisida serta pembuatan peraturan daerah yang mengatur permasalahan lahan di kawasan sabuk hijau. (BIP)
 

Dibentuk Forum Rembug Pariwisata Dieng

Bunga Kalalili yang dikembangkan para petani di Dieng Kulon, Banjarnegara kini dilirik menjadi suguhan wisata yang ditawarkan kepada wisatawan. Bunga itu juga jadi hiasan di home stay wisata.(suaramerdeka.com/M Syarif SW)
Bunga Kalalili yang dikembangkan para petani di Dieng Kulon, Banjarnegara kini dilirik menjadi suguhan wisata yang ditawarkan kepada wisatawan. Bunga itu juga jadi hiasan di home stay wisata.(suaramerdeka.com/M Syarif SW)

BANJARNEGARA, suaramerdeka.com – Upaya mengembangkan pariwisata di Kawasan Wisata Dataran Tinggi Dieng (KWDT) terus dilakukan Pemkab Banjarnegara. Salah satunya dengan membentuk Forum Rembug Pariwisata Dieng.
”Kami membentuk Forum Rembug Pariwisata Dieng dan sudah melakukan pertemuan beberapa kali. Pertemuan membahas rencana dan realisasi pengembangan objek wisata kompleks Candi Arjuna dan Soeharto-Withlam, Kawah Sikidang serta Telaga Merdada,” ungkap Kepala Dinparbud Banjarnegara, Dwi Suryanto.
Pertemuan forum itu dihadiri tokoh masyarakat, tokoh agama, pokdarwis, LMDH, kepala desa Dieng Kulon, Kepakisan, Pekasiran, dan juga Karangtengah. Hadir pula perwakilan dari dinas terkait, camat dan Forkompinca, Perhutani serta Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB).
”Di kompleks Soeharto-Withlam dan Candi Arjuna kami rencanakan membebaskan lahan warga untuk perluasan kantong parkir kendaraan wisatawan. Kemudian membangun gerbang masuk kompleks wisata itu tahun ini,” paparnya.
Melalui upaya tersebut diharapkan pemasukan dari tiketing makin besar dan kendaraan yang tertampung makin banyak sehingga dapat mencegah kemacetan pada puncak kunjungan wisatawan.
Adapun di Telaga Merdada, akan dibangun dermaga wisata dan sarana penunjang lainnya. Diharapkan pada bulan April realisasi pembangunan fisik di sejumlah objek wisata di KWDT sudah dapat dilaksanakan.
Untuk Kawah Sikidang akan dilakukan penataan pedagang dan area parkir sehingga tampilannya lebih rapi serta menarik. Juga dibuat jalan kompleks untuk wisatawan sehingga mereka dapat berkeliling di objek wisata itu dengan mudah.
”Harapannya sebelum Dieng Culture Festival (DCF) digelar maka semua fasilitas dan sarana penunjang sudah selesai dibangun di objek-objek wisata tersebut,” ujarnya.

(M Syarif SW/ CN34/ SM Network)

Pecinta Mercedes-Benz G-Class Gelar Turing Jakarta-Dieng-Jogja


MJI-Gelar-Turing-Jakarta-Dieng-Jogja
YOGYAKARTA, 3 Maret 2017 – Touring menjadi salah satu agenda utama sebuah komunitas. Sama seperti yang dilakukan komunitas Mercedes Jip Indonesia (MJI) yang baru saja menggelar kegiatan touring mereka. Destinasi dari komunitas pecinta Mercedes-Benz G-Class ini adalah kawasan wisata Dieng dan Yogyakarta. Berkumpul di Rest Area KM 39 Jakarta, sebanyak 25 unit berkumpul dan memulai perjalanan. Dengan melewati tol Cipali, touring ini mendapatkan tambahan 15 peserta dari Bandung.

Jumlah mobil yang mencapai 40 unit ini begitu terlihat mengular. Meski rangkaian Gelandewagen tersebut terlihat sangat panjang, namun rombongan melakukan perjalanan dengan teratur. Hal tersebut turut dibantu dengan dipimpin oleh seorang Road Captain.

Saleh Haris Harahap salah satu member MJI mengatakan, sebenarnya acara kali ini hanyalah ingin menghadiri pernikahan salah satu member MJI di Yogyakarta, namun sebagian member mengusulkan untuk sekalian berwisata ke kawasan Dieng sebelum menuju ke pernikahan Dennis, hitung-hitung mencoba G-Class di rute menanjak .

“Intinya acara kali ini hanya untuk menghadiri pernikahan salah satu member MJI yang kebetulan dilaksanakan di Yogyakarta. Nah, daripada hadir sendiri-sendiri, sekalian kita lakukan turing,” imbuh pria yang akrab disapa Sais ini.

Sais menambahkan, memang selama disana tidak ada kegiatan-kegiatan yang biasa kita lakukan saat turing, seperti baksos, hanya Fun Riding saja. Turing yang tanpa direncanakan, namun tetap seru, apalagi diikuti oleh 40 G-Class dari Jakarta dan Bandung. Selamat Atas Pernikahan Dennis Prigito dan Mona,” tutup Sais.

TITO LISTYADI

Penggunaan Pestisida di Dataran Tinggi Dieng Berlebih

Penggunaan Pestisida di Dataran Tinggi Dieng Berlebih

Dataran tinggi Dieng terkenal akan tanaman kentangnya. Tanaman ini mulai dikenal petani tahun 1980-an dan telah mampu mengangkat taraf hidup masyarakat setempat hingga sekarang. Tetapi hal ini tidak sebanding dengan penggunaan pestisida di daerah yang dijuluki negeri di atas awan tersebut.

Keadaan ini diiyakan oleh Tafrihan selaku relawan lingkungan Bhineka Dieng. Menurutnya, penggunaan pestisida yang berlebih di kawasan dataran tinggi Dieng berdampak pada tanah di daerah tersebut.

“Penggunaan pestisida dan obat-obatan yang berlebihan telah membuat unsur hara di tanah makin berkurang dan tanah makin tandus. Ditambah lagi dengan penggundulan hutan yang marak terjadi sejak zaman reformasi membuat lahan pertanian semakin gersang” ungkapnya.

Menanggapi penggunaan pestisida yang berlebih, Anggota DPRD Wonosobo dari fraksi PDIP, Wahyu Nugroho menjelaskan peredaran dan penggunaan pestisida perlu diawasi dan diwaspadai karena masih mengkhawatirkan.

“Hasil monitoring tim pemulihan lingkungan Dieng menunjukkan, hingga saat ini perdagangan pestisida masih mengkhawatirkan baik untuk kesehatan maupun untuk lingkungan. Penggunaan pestisida di Dataran Dieng perlu diwaspadai, sosialiasi pola pemeliharaan tanah secara organik perlu dilakukan serius kepada masyarakat. Dalam pantauan kami, di Kecamatan Kejajar terdapat puluhan pedagang menjual pestisida di lingkungan pemukiman penduduk” kata Wahyu ketika diwawancarai di gedung DPRD Wonosobo (20/2). Menurut Wahyu, perlu adanya gerakan bersama sadar sehat dan pengamanan tanah dari pestisida serta pembuatan peraturan daerah yang mengatur permasalahan lahan di kawasan sabuk hijau.
 

Dieng Culture Festival

Dieng Culture Festival

dieng culture festival

Festival budaya Dieng atau lebih di kenal dengan Dieng Culture Festival adalah acara rutin tahunan di Dieng, acara pekan budaya tersebut diramaikan dengan berbagai kegiatan sehingga anda akan puas jika datang ke Dieng pas acara tersebut di gelar. Di tahun 2015 ini adalah kali ke enam (6) acara Dieng Culture Festival tersebut diadakan. Berbagai kegiatan dapat anda saksikan saat Dieng Culture Festival berlangsung. Anda akan disuguhi bermacam kegiatan seperti Jazz Atas Awan, Bakar Jagung dan Minum Purwaceng bersama, Festival Budaya dan Kesenian Tradisional Dieng, Pesta Lampion dan Kembang Api, Camping Ground dan acara-acara yang menarik lainnya. Hingga pada puncak acara tersebut adalah Cukur Rambut Gimbal atau upacara ruwatan yang dilakukan untuk mencukur anak-anak yang berambut gimbal / gembel asli dari Dataran Tinggi Dieng. Jika ditahun sebelumnya anda belum Pernah mengikuti acara Dieng Culture Festival, maka di tahun 2015 ini anda bisa menikmatinya di akhir Juli dan awal Agustus 2015. Namun hal yang perlu diingat adalah Booking Ticket DCF jauh-jauh hari min H-2 bulan karena seperti tahun-tahun kemarin, banyak wisatawan yang tidak bisa mendapatkan ticket DCF tersebut. Ditahun ini DCF akan lebih ramai berdasarkan pengalaman tahun-tahun lalu yang mampu menyedot ribuan pengunjung baik pengunjung lokal ataupun para wisatawan domestik dan mancanegara.

Jadwal DCF tahun 2015

Berikut gambaran kegiatan yang bisa anda nikmati pada saat Dieng Culture Festival 2015 di Dieng Plateau

Tanggal 31 Juli 2015 - 2 Agustus 2015.
Harmony Social Community

31 July 2015, pukul : 13.00 - 17.00
Orasi agama berbasis budaya Ekspo UMKM

31 July 2015, pukul : 09.00 - selesai
Pameran produk unggulan UMKM dan. Jazz Atas Awan

31 July 2015, pukul : 19.00 - 23.00
Jazz ndesa kemulan sarung Bakar Jagung & Minum Purwaceng Barengan

31 July 2015, pukul : 20.00-  21.00
Sambil menikmati alunan jazz Harmoni bersama Alam

1 August 2015, pukul : 04.00 - selesai
Sunrise & penghijauan Pangonan

1 August 2015, pukul : 09.00 - 11.00
Jalan Sehat & Minum Purwaceng Barengan Start-finish Soeharto Whitlam dan Festival Seni Tradisional

1 August 2015, pukul : 10.00 - 17.30
Penampilan bermacam seni tradisi Pesta Lampion & Kembang Api

1 August 2015, pukul : 20.00 - 22.00
Jangan datang piyambakan Ritual Pencukuran Rambut Anak Gembel

2 August 2015, pukul : 06.30 - 14.00
Kirab, jamasan, cukur, larungan

Paket Privat Tour DCF (Dieng Culture Festival) tahun 2015

3 Hari 2 malam (3d2n) Meeting Point : Wonosobo

2 Peserta = Rp 1.900.000,- / Peserta
3 – 4 Peserta = Rp 1.250.000,- / Peserta
5 – 6 Peserta = Rp 900.000,- / Peserta

Fasilitas (Include) :

Mobil Avanza / Xenia / Luxio / Grandmax (Driver, BBM, Parkir)
Penginapan / Homestay standar (1 kamar isi 2-3 orang, kamar mandi luar kamar, air hangat)
Tiket objek wisata Dieng
Tiket DCF
Guide Lokal

Keterangan :

~ Paket tidak termasuk makan selama Tour
~ Untuk peserta lebih dari 6 orang mohon hubungi cs kami

Hal-hal yang belum jelas mengenai paket Dieng Culture Festival bisa ditanyakan melalui Sms/Wa : 0816686034 / 085227030127

Gelar Budaya Dieng

Gelar Budaya Dieng

Gelar Budaya Dieng

Dataran tinggi Dieng terletak di Kaki gunung Prau yang menurut wilayah administrative berada pada empat karisidenan (Pekalongan ,Banyumas, Kedu, dan Semarang) Meliputi Kabupaten Wonosobo, Banjarnegara, Batang, Pekalongan, Temanggungdan Kab. Kendal. Secara geografis wilayah ini terletak pada koordinat 109º41’00’” – 109º58’00” BujurTimur dan 07º09’30” – 07º17’00” Dan berada pada ketinggian 2100 s/d 2300 Mdpl. Masa kejayaan Dieng dikenal sejak dinasti Sanjaya sampaiDinastiSyailendra. Yaitu pada masa Pemerintahan Rake Warak Diyah Manara Raja yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno pada tahun 803 s/d 827 M. Pada masa kejayaan dinasti sanjaya dan syailendra kekuasaanya meliputi dari Karesidenan Pekalongan, Karesidenan Kedu, Karesidenan Banyumas dan Karesidenan Banyumas.
Dalam era memasuki globalisasi ini dunia pariwisata juga dituntut untuk bisa mengembangkan diri dan bisa bersaing dengan Wisata lainya serta mampu mengantisipasi berbagai permasalahan-permasalahan yang akan timbul. Permasalahan-permasalahan ini akan timbul ketika pembangunan sektor pariwisata mengancam eksistensi dan kelestarian kesenian tradisional serta Budaya Lokal. Dimana ekpresi budaya local seperti kesenian tradisional, budaya lisan seperti mitos, legenda, cerita rakyat serta budaya lainnya yang telah menjadi kebutuhan integrative masyarakat lambat laun akan terabaikan padahal eksistensi budaya local merupakan aset wisata yang tak ternilai harganya. Hal ini perlu suatu model pengembangan pariwisata yang berorientasi pada kelestarian budaya yang berbasis kearifan lokal, perlu upaya dan aksi demi kelestarian budaya local dengan mensinergikan antara obyek wisata dengan kesenian tradisional dan budaya local.
Geliat dan semangat yang ada dimasyarakat ditampung aspirasi dan idenya, dalam rangka menunjang kepariwisataan perlu dukungan oleh semua pemangku berkepentingan, Sehingga tujuan pariwisata yang berorientasi pada kelestarian kesenian tradisional dan budaya Lokal dapat terwujud. Media melestarikan lewat kegiatan parade kesenian tradisional,sendratari babad Dieng serta sarasehan seni dan Budaya. Sehingga kebudayaan local menjadi bagian dari kebudayaan Nasional.
Kalau Kita Menyusuri beberapa Peradapan yang ada di Dieng. Bahwa sebelum adab ke 6 Dieng dikenal dengan peradapan Agama Kapitayan atau Agama Nusantara ini merupakan Peradaban di mana sebelum Agama Hindu masuk dan berkembang di Dieng. Memasuki pada abad ke 6 Dieng berperadaban Tirta Gama. Ini dibuktikan dengan ditemukannya beberapa prasasti-prasastisejumlah 13 Buah.diantaranya :Prasasti Kapuhunan yang menceritakan tentang tempat tinggal Dewa Syiwa, ini memperkuat bahwa Dieng merupakan sebagai tempat bersemayamnya para Dewa Dewa dan dari prasasti-prasasti yang ada Prasasti yang tertua yang menunjukan tahun saka 731 C /809M. dan yang prasasti yang termuda tahun 1132 saka / 1210 M.
Begitu Lengkapnya kekayaan yang dimiliki kawasan dataran tinggi Dieng sehingga akan sangat menarik apabila dikembangkan lagi terutama dukungan masyarakat lokal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Obyek wisata tersebut. Bagaimana mensinergikan antara Obyek wisata dengan BudayaLokal diantaranya adalah dengan sarasehan budaya, aktrasi kesenian tradisional dan budaya tradisi ruwat rambut gembel, Sendratari mahabarata versi Dieng dan babad Dieng yang merupakan bagian dari kebutuhan integrative masyarakat dataran tinggi Dieng.

Jadwal Acara Gelar Budaya Dieng

Pembukaan Gelar Budaya Dieng

14/10/15 Pendopo Eks Dieng Jaya – Dieng Wetan 09.00-10.30 Wib

Parade Kesenian Gelar Budaya Dieng

14/10/15 Pendopo Eks Dieng Jaya – Dieng Wetan 10.30-15.00 Wib 15/10/15 Pendopo Eks, Lap P. Banteng & Sembungan 09.00-15.00 Wib 16/10/15 Pendopo Eks, Lap P. Banteng & Sembungan 09.00-15.00 Wib 17/10/15 Pendopo Eks, Lap P. Banteng & Sembungan 09.00-15.00 Wib

Lomba Fotografi Gelar Budaya Dieng

14/10/15 Semua Lokasi gelar Budaya & Open Trip 09.00-15.00 Wib 15/10/15 Semua Lokasi gelar Budaya & Open Trip 09.00-15.00 Wib 16/10/15 Semua Lokasi gelar Budaya & Open Trip 09.00-15.00 Wib 17/10/15 Semua Lokasi gelar Budaya & Open Trip 09.00-15.00 Wib

Pameran Bunda Pusaka Gelar Budaya Dieng

14/10/15 Ratu Homestay – Dieng Kulon 09.00-15.00 Wib 15/10/15 Ratu Homestay – Dieng Kulon 09.00-15.00 Wib 16/10/15 Ratu Homestay – Dieng Kulon 09.00-15.00 Wib 17/10/15 Ratu Homestay – Dieng Kulon 09.00-15.00 Wib

Seminar & Saresehan Budaya Gelar Budaya Dieng

16/10/15 Pendopo Suharto-Whitlam – Dieng Kulon 09.00 –11.00 Wib

Tarian Ngupadi Gelar Budaya Dieng

16/10/15 Pendopo Eks Dieng Jaya – Dieng Wetan 18.00-19.00 Wib

Doa Lintas Agama Gelar Budaya Dieng

16/10/15 Pendopo Eks Dieng Jaya – Dieng Wetan 19.00-20.00 Wib

Sendratari Mahabarata Gelar Budaya Dieng

17/10/15 Pendopo Eks Dieng Jaya – Dieng Wetan 19.30-21.30 Wib

Tarian Hangruwat Gelar Budaya Dieng

18/10/15 Pendopo Eks Dieng Jaya – Dieng Wetan 10.00-10.30 Wib

Tarian Hangesti Gelar Budaya Dieng

18/10/15 Pendopo Eks Dieng Jaya – Dieng Wetan 10.30-11.00 Wib

Tarian Momongi Anak Gelar Budaya Dieng

18/10/15 Pendopo Eks Dieng Jaya – Dieng Wetan 11.00-12.00 Wib

Pembagian Hadiah Lomba Gelar Budaya Dieng

18/10/15 Pendopo Eks Dieng Jaya – Dieng Wetan 12.00-12.15 Wib

Penutupan Gelar Budaya Dieng

18/10/15 Pendopo Eks Dieng Jaya – Dieng Wetan 12.15-12.30 wib

JADWAL OPEN TRIP KE BUKIT SIKUNIR, G.PAKUWAJA DAN G.PRAU

Sunrise di Sikunir (Gelar Budaya Dieng)

1 13 & 14 Okt’15 Camp Sembungan 08.00-14.00 Wib [2.263 m] 01.00-14.00 Wib 2 14 & 15 Okt’15 Camp Sembungan 08.00-14.00 Wib 01.00-14.00 Wib 3 15 & 16 Okt’15 Camp Sembungan 08.00-14.00 Wib 01.00-12.00 Wib 4 16 & 17 Okt’15 Camp Sembungan 08.00-14.00 Wib 01.00-14.00 Wib

Sunrise di Gunung Pakuwaja [2.395 m] (Gelar Budaya Dieng)

1 13 & 14 Okt’15 Camp Parikesit, Dieng & Kalilembu 08.00-14.00 Wib 10.00-15.00 Wib 2 14 & 15 Okt’15 Camp Parikesit, Dieng & Kalilembu 08.00-14.00 Wib 10.00-15.00 Wib 3 15 & 16 Ot’15 Camp Parikesit, Dieng & Kalilembu 08.00-14.00 Wib 10.00-15.00 Wib 4 16 & 17 Okt’15 Camp Parikesit, Dieng & Kalilembu 08.00-14.00 Wib 10.00-15.00 Wib

Sunrise di Gunung Prau [2.565 m] (Gelar Budaya Dieng)

1 13 & 14 okt’15 Camp Patak Banteng 08.00-14.00 Wib 11.00-16.00 Wib 2 14 & 15 Okt’15 Camp Patak Banteng 08.00-14.00 Wib 11.00-16.00 Wib 3 15 & 16 Okt’15 Camp Patak Banteng 08.00-14.00 Wib 10.30-15.30 Wib 4 16 & 17 Ot’15 Camp Patak Banteng 08.00-14.00 Wib 11.00-16.00 wib

 Informasi Mengenai Paket Wisata Gelar Budaya Dieng mohon menghubungi kami

Jalankan Fungsi Monitoring, KPK Sambangi GeoDipa Unit Dieng

Jalankan Fungsi Monitoring, KPK Sambangi GeoDipa Unit Dieng
   
Jakarta, HanTer - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan kunjungan lapangan ke PT Geo Dipa Energi (Persero) Unit Dieng, Rabu (15/2/2017) lalu. Dalam melakukan kunjungan, KPK didampingi oleh PT PLN (Persero) dan Direktorat Panas Bumi, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Direktur Utama GeoDipa dan Tim Unit Dieng menerima langsung kunjungan tersebut dengan hangat. "Kesempatan kali ini, Direktur Penelitian dan Pengembangan (Litbang) KPK, Wawan Wardiana yang melakukan kunjungan lapangan," kata Corporate Secretary PT Geo Dipa Energi Endang Iswandini di Jakarta, kemarin.

"Sedangkan EBTKE mengutus Kasubdit Pengawasan Eksplorasi dan Eksploitasi Panas Bumi, Eddy Hindiarto, dan Kasubdit Pelayanan dan Bimbingan Usaha Panas Bumi, Budi Herdiyanto beserta staff. Untuk PLN mengirimkan Deputi Manager Pengelolaan Pembangkit Divisi Operasi Regional Jawa Bagian Tengah, Lambas Richard Pasaribu," sambung dia.

Direktur Utama PT Geo Dipa Energi, Riki Ibrahim, menyambut baik kunjungan tersebut. Ia mengatakan, pihaknya merasa sangat tersanjung atas kunjungan dari KPK, PLN dan EBTKE. "Karena ini berarti kami sebagai BUMN Panas Bumi benar-benar diperhatikan oleh negara," katanya.

Riki menambahkan, sebagai BUMN dirinya merasa bertanggung jawab penuh akan program ketahanan energi untuk negara. "Kami akan menjaga komitmen kami sebagai pengelola aset negara untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Litbang KPK, Wawan Wardiana memberikan arahan bahwa KPK memiliki lima fungsi yaitu monitoring, koordinasi, supervisi, penindakan, dan pencegahan.

"Kebetulan kami yang divisi litbang melakukan fungsi monitoring segala sesuatu baik itu administrasi atau pun proses bisnis segala sesuatu milik pemerintah," ucapnya.

Wawan dengan tegas menjelaskan bahwa KPK pada dasarnya mendukung penuh Program Percepatan Listrik Pemerintah 35 Ribu MW. Kami mengawal program tersebut.

"Sekarang kami menjadi tau bahwa Geo Dipa mengambil bagian dari program pemerintah tersebut. Berarti GeoDipa juga menjadi salah satu aset negara yang akan kami kawal agar tidak terjadi hal-hal yang menyebabkan kerugian negara," jelasnya.

Selain arahan-arahan dari KPK, EBTKE dan PLN, juga melakukan kunjungan lapangan ke Pad 30, Pad 31, dan Power Plant untuk melihat secara langsung Aset Negara berupa sumur dan pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Untuk diketahui, Geo Dipa Unit Dieng ditetapkan sebagai salah satu objek vital nasional sejak tahun 2012. Hal ini berarti, Geo Dipa Unit Dieng memiliki sifat strategis, menyangkut hajat hidup orang banyak dan memberikan kontribusi kepada Negara.

Oleh karena itu akan selalu dikawal oleh pihak-pihak penegak hukum mengenai keberlangsungan bisnis Geo Dipa.

Kawal Aset Negara, KPK Kunjungi Geo Dipa Unit Dieng

Kawal Aset Negara, KPK Kunjungi Geo Dipa Unit Dieng

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan kunjungan lapangan ke PT Geo Dipa Energi (Persero) Unit Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Dalam melakukan kunjungan, KPK didampingi oleh PT PLN (Persero) dan Direktorat Panas Bumi, Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Direktur Utama Geo Dipa Riki Ibrahim menjelaskan, kunjungan oleh KPK, PLN dan Kementerian ESDM tersebut memberikan banyak arti bagi Geo Dipa. Utamanya, kunjungan tersebut menjadi wujud nyata bahwa energi panas bumi benar–benar diperhatikan oleh negara.

"Kami siap untuk menerima aset-aset negara yang lain jika kami dipercaya, karena kami merasa bertanggung jawab penuh akan program ketahanan energi untuk negara," jelas Riki seperti dikutip dari keterangan tertulis, Kamis (16/2/2017). Ia melanjutkan, Geo Dipa akan menjaga komitmen sebagai pengelola aset negara untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Litbang KPK Wawan Wardiana mengatakan, KPK memiliki lima fungsi yaitu monitoring, koordinasi, supervisi, penindakan, dan pencegahan. "Kebetulan kami yang divisi litbang melakukan fungsi monitoring segala sesuatu baik itu administrasi atau pun proses bisnis segala sesuatu milik pemerintah," tutur dia.

KPK pada dasarnya mendukung penuh Program Percepatan Listrik Pmerintah 35 Ribu MW. Salah satu bentuk dukungan tersebut yaitu dengan mengawal program tersebut agar tidak menimbulkan kerugian bagi negara.

"Dengan kunjungan ini kami menjadi tahu bahwa Geo Dipa mengambil bagian dari program tersebut. Berarti Geo Dipa juga menjadi salah satu aset negara yang akan kami kawal agar tidak terjadi hal-hal yang menyebabkan kerugian negara," tutur dia.

Dalam acara tersebut, KPK, PLN dan Kementerian ESDM melakukan kunjungan lapangan ke Pad 30, Pad 31, dan Power Plant untuk melihat secara langsung Aset Negara berupa sumur dan pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Geo Dipa Unit Dieng ditetapkan sebagai salah satu objek vital nasional sejak tahun 2012. Hal ini berarti Geo Dipa Unit Dieng memiliki sifat strategis, menyangkut hajat hidup orang banyak dan memberikan kontribusi kepada Negara. Oleh karena itu akan selalu dikawal oleh pihak – pihak penegak hukum mengenai keberlangsungan bisnis Geo Dipa.

Tips Berwisata ke Dieng

Tips Wisata ke Dieng

Tips Wisata ke Dieng

Suasana liburan memang menjadi hal yang ditunggu-tunggu, disamping menyenangkan juga bisa membuat kita lupa akan masalah-masalah yang ada. Namun terkadang berlibur justru menimbulkan masalah baru, salah satunya pengeluaran yang membengkak di luar anggaran. Apalagi ketika kita memutuskan untuk mengunjungi obyek wisata yang jarak tempuhnya lumayan jauh. Hal ini juga berlaku ketika kita mengunjungi Dieng. Meskipun terkenal dengan segala sesuatu yang serba murah, tapi jangan terkecoh. Niatnya ingin berwisata murah, malah bisa jadi tabungan kita ikut ludes terkuras. Untuk menghindari hal tersebut, berikut Tips Wisata ke Dieng agar liburan tetap hemat namun berkesan.

Tips Wisata Ke Dieng

Transportasi

Yang pertama harus dipikirkan adalah masalah transportasi, jika belum pernah ke Dieng mungkin tersirat dalam benak “Wisata ke Dieng itu transportasinya mudah gak ya? aman gak?”. Nah untuk itu sedikit kami gambarkan jalur ke Dieng.
Dari Jakarta ke Dieng

Beberapa pilihan yang bisa anda ambil terkait transportasi ke Dieng.
1. Naik Bus dari Jakarta turun di terminal Wonosobo, harga tiket antara Rp. 80.00,- sampai Rp. 120.000,- tergantung tarif masing-masing Bus. Setelah sampai di Wonosobo, carilah Micro Bus Jurusan Dieng (kalo bingung tanya aja orang sekitar he….), ongkos dari Wonosobo ke Dieng Rp. 10.000,-. Untuk memudahkan berkeliling wisata selama di Dieng cari aja jasa Sewa Motor. Terlebih jika anda cuma berdua atau maksimal 4 orang, dengan Sewa Motor disamping bebas juga lebih efisien.

2. Dari Jakarta naik Kereta Jurusan Stasiun Purwokerto, untuk harga tiket Rp. 120.000,- tergantung kelasnya mau yang ekonomi atau bisnis. Dari Purwokerto naik Bus Jurusan Wonosobo, ongkos sampai ke Wonosoobo Rp. 35.000,- di tambah ongkos naik dari Wonosobo ke Dieng Rp. 15.000,- Rp.20.000,-.

3. Pilihan yang ke tiga ini khusus bagi anda yang tidak ingin repot, dari Jakarta naik Bus atau Kereta jurusan Purwokerto, setelah sampai Purwokerto pakai jasa Rental Mobil Dieng yang sudah terpercaya. Nah anda tinggal duduk dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan ke Dieng, namun jika anda menggunakan jasa Rental Mobil di sarankan booking mobilnya jauh hari sebelum hari H. Jika anda membutuhkan jasa Sewa Mobil silahkan menghubungi pin bb 7E5F678B.
4. Adapun pilihan yang ke empat Ini bagi anda yang ingin naik Pesawat, dari Jakarta naik Pesawat jurusan Yogyakarta atau Semarang, setelah sampai bandara, pakai jasa Rental Mobil yang sudah terpercaya dan murah tentunya. Anda bisa istirahat selama perjalanan ke Dieng, Tapi kami sarankan booking mobilnya jauh hari sebelum mau berangkat ke Dieng. Jika anda ingin menggunakan jasa Sewa Mobil silahkan menghubungi Telp/WA : 085227030127.

5. Anda bingung dengan pilihan ke empat tadi? Jika masih ragu pilihlah point ke lima ini. Ikuti paket wisata Dieng, dengan mengikuti paket ini anda tidak perlu memikirkan penginapan, tiket obyek wisata Dieng, transportasi selama di Dieng. Untuk harga Paket Wisata Dieng berfariasi tergantung biro yang menyelenggarakan.

Penginapan / Homestay
Harga Penginapan atau Homestay di Daerah Dieng berfariasi tergantung fasilitas yang di sediakan. harga yang di patok mulai Rp. 100.000,- per kamar untuk 1 malam hingga Rp. 350.000,-. Namun kebanyakan penginapan atau homestay di Dieng sudah di lengkapi fasilitas Air Hangat, jadi meskipun harga murah namun anda tidak usah takut mandi dengan air dingin.

    Daftar Penginapan atau Homestay Dieng

Lain-lain

Disamping biaya Transportasi dan Penginapan, anda juga perlu memikirkan biaya lain-lain seperti biaya makan, biaya tiket obyek wisata, biaya guide jika anda membutuhkan, biaya potter jika anda hendak ke gunung Prau, Biaya sewa perlengkapan alat Camping, biaya oleh-oleh kalo mau beli dan biaya tak terduga lainnya.

Demikian sedikit informasi tentang Panduan Wisata ke Dieng. dan Tips wisata ke Dieng. Semoga dapat membantu liburan yang sesuai dengan keinginan anda. Terimakasih



Informasi lengkap mengenai Paket Wisata Dieng, Rental Mobil Dieng, Penginapan Dieng silahkan menghubungi kami di Telp/Wa : 085227030127

Selamat menikmati keindahan Panorama Alam Dieng dalam Paket Wisata Dieng bersama kami ….!!

Inilah Dieng ( Pesona, Potensi, Misteri )

Inilah Dieng  ( Pesona, Potensi, Misteri )

This Is Dieng ( The Charm, Potensial, Mystery ) 


Inilah Dieng
Inilah Dieng. Dieng adalah cerita yang tidak ada habis-habisnya tentang masa lalu, tentang alam awang uwung, kosong, nihil, nisbi, sekaligus misteri. Dari dimensi geologis, kontur kebumian, aklimatisasinya, artefak dan situs percandiannya, keanekaan hayati, sampai sosial kosmo antropologis, kultural dan historisnya, Dieng juga lekat dengan sisi mistis magis spiritual kebatinannya.
Saya bertanggung jawab untuk mengatakan bahwa Dieng adalah tanah penuh keajaiban (super miracles dan full miracles). Dari namanya pun penuh aura magis di dalamnya, bukan sekedar akronim dari adi dan hyang atau gunung para dewa, edi dan hyang atau puncak negeri dewata, tetapi juga edi dan aeng, aneh dan langka, serta suasana batin yang dalam dan liris panjang yang harus diurai.

Bila di masa lalu sekitar abad ke-8 Masehi Dinasti Wangsa Sanjaya memutuskan membangun situs percandian di Dataran Tinggi Dieng, tentulah bukan sebuah kebetulan. Apalagi kompleks candi yang dibangun adalah jenis Candi Siwa, candi yang dalam Agama Hindu dikenal sebagai candi untuk memuliakan Dewa-dewa Hindu. Berbeda dengan Candi-candi Siwa di situs lainnya, beberapa arca yang ditemukan di kompleks Candi Dieng adalah Arca Siwa Trisirah atau tiga wajah dalam satu tubuh. Tiga Kepala pada Siwa adalah ciri yang dominan dari Siwa Mahadewa. Karenanya Siwa Trisirah adalah juga Mahadewa. Siwa Trisirah, sebagaimana sifatnya yang Mahadewa atau The Supreme God, maka Siwa Trisirah bersifat sebagai Sang Pencipta, Pemelihara, dan Pengembali Alam Semesta ke Asalnya.

Diperoleh informasi pula, situs Dieng memiliki keunikan lain karena ditemukan siwa yang diarcakan dalam posisi duduk di atas padmasona dengan posisi wajraparyankasana. Ikon ini digambarkan dengan tiga kepala, masing- masing mengenakan jasamakutha. Tangannya empat, kedua tangan yang depan menunjukkan sikap sama di (yogamudra), sedangkan kedua tangan lainnya masing-masing memegang aksamala dan camara. Abharana yang dikenakan terdiri atas kundhala, hara, keyura, udarabhanda, uparupa berupa selempang kain, kangkana, dan padawajaya




Bukan Candi Tunggal
Tempat pemuliaan itu bukan candi tunggal, namun kompleks candi, dari bangunan utama yang mengumpul seperti Kompleks Candi Pandawa, sampai candi - candi utama yang agak terpisah seperti Candi Bima, Candi Gatotkaca, Candi Dwarawati, Candi Parikesit, Candi Setyaki, sampai candi-candi kecil yang baru beberapa bulan lalu diketemukan oleh masyarakat, di antaranya Candi Wisanggeni, yang terletak di Bukit Pangonan sebelah barat laut, tepat di atas Telaga Merdada. Kompleks candi itu dilengkapi dengan bangunan Dharmasala, yakni asrama tempat para cantrik menimba wulang wuruk ilmu agama dan kanuragan kepada pandhita atau guru. Berarti Dieng di masa lalu juga merupakan mandala pawiyatan yang menyatu dengan lokasi pemuliaan kepada dewa-dewa Hindu.
Nama-nama candi tersebut diyakini para arkeolog bukan berasal dari nama Mahabharata, namun modifikasi dari budaya lokal. Hal itu terlihat pada nama Candi Semar, dimana dalam Kitab Mahabharata tidak ditemukan tokoh Semar. Lebih-lebih dari prasasti yang ada ditemukan angka 713 tahun saka sebagai ancer-ancer (perkiraan) pembuatannya atau sekitar abad kedelapan, sementara tokoh Semar bersama punakawan lainnya baru muncul pada abad ke delapanbelas.



Terbayang sebuah hamparan tanah luas 100 ha, dimana sentralnya kompleks percandian, lalu ada asrama tempat para cantrik bersenandung, membaca Kitab Wedha dan belajar yang lain di kanan kiri bangunan pemukiman penduduk asli. Sementara di kanan kiri pemukiman tergelar taman bunga aneka warna mengharumkan di tepian telaga, di bawah langit berkabut yang beradu dengan aroma dupa dan kayu cendana. Kasi Purbakala Drs. Hutomo, M. Hum meyakini bahwa Kompleks Candi Dieng merupakan Candi Hindu tertua di Nusantara. Candi Dieng dibangun khusus untuk peribadatan, bukan untuk simbol
kemegahan atau pencitraan kekuasaan seperti halnya Candi Borobudur ataupun Candi Prambanan. ltulah makanya Candi Dieng bentuknya sederhana, namun berada pada lokasi yang sangat spesifik, pada sebuah lembah di dataran tinggi. Antara kompleks candi dengan bentuk alam dan panorama merupakan satu kesatuan.
Inilah yang membuat Candi Dieng menjadi unik, khas. Sebuah karya yang dibuat pada abad ke delapan, namun teknologi dan arsitekturnya berkelas abad dua puluh satu. Keberfungsian Kompleks Candi Dieng bisa disamakan dengan Kompleks Candi Gedongsanga di kabupaten Semarang, yang juga mengambil lokus di sela-sela perbukitan Gunung Ungaran.



Ketuaan candi ini bisa pula dilihat dari arsitekturnya yang mirip dengan Candi - candi Hindu di India. Rupanya para Pendakwah Hindu dari India, begitu mendarat di pantai utara sekitar Pekalongan, langsung menuju Dataran Tinggi Dieng, Iewat daerah Petungkriyono. Di daerah ini, beberapa waktu lalu banyak ditemukan peninggalan artefak di sepanjang Sungai Petungkriyono dari wilayah Pekalongan sampai Dieng. Barulah pada Candi Bima, kita sudah melihat ada modifikasi dan peningkatan arsitektur candi yang memadukan gaya India dengan gaya nusantara, dengan tampilan arca kudhu yang bernilai seni tinggi sehingga selalu menjadi incaran pencurian para kolektor benda-benda purbakala.

Situs peninggalan purbakala itu tidak hanya candi yang selama ini kita kenal. Di kebun-kebun, di bukit, di Iembah, dan dimana-mana masih terserak artefak dan situs yang tak terbilang jumlahnya. Kekayaan yang tersimpan di Museum Kailasa, adalah bukti betapa Dieng di masa lalu penuh tebaran artefak yang tak terhingga jumlahnya, yang tak terhingga nilainya, dan tentu saja tak terhingga misteriusnya. Misterius karena bagian-bagian candi itu ditemukan di kebun-kebun penduduk yang terpendam di dalam tanah yang terpisah dari bagian-bagian utamanya; ada arca, ada patung, ada Iingga yoni, dan artefak lainnya. Misterius karena banyak benda purbakala yang tidak terlacak kapan waktu tepatnya benda-benda tersebut dibuat. Misterius karena menurut penjaga Museum Kailasa, Muhson dan lanah, beberapa kali sebagian arca hilang, menghilang, juga dicuri namun bisa diambil kembali, di antaranya arca Siwa dan 2 makara.

Surga Nyata

Komplels percandian dibangun di Dataran Tinggi Dieng bukanlah sebuah kebetulan karena Dieng melengkapi diri dengan fasilitas alam yang menantang manusia imtuk dijadikan apa, yang bila tak salah kelola menjadi surga nyata. Di teras selatan, di antara Bukit Sikunir dan Bukit Pangonan tergelar hamparan kawah-kawah dari yang mungil, medium, hingga yang terbesar di Kawah Sikidang, yang berpindah, melompat, berubah wujud lekuk bentuk dan lobangnya. Namun yang ajeg dari kawah-kawah itu adalah gulungan - gulungan asap sengak beraroma harum belerang yang khas dan menyembuhkan. Belum Iagi dengan Kawah Sileri yang menggoda namun harus waspada karena wataknya yang fluktuatif  dari segi vulkanik, juga Kawah Timbang di Simbar yang semra periodik dua sampai empat tahunan menebar gas beracun. Tentu saja yang paling eksplosif adalah Kawah Candradimuka yang setiap detik tak pemah henti memuntahkan gas belerang mengepul putih menjulang tinggi memulas langit Desa Pekasiran.
Hamparan belerang tak terhitung itu lalu membias di sudut lain berupa Telaga Pengilon yang beningnya air menyerupai kaca pengilon (cermin), kinclong mencorong, ditemani Telaga Warna yang saat diterpa mentari akan menghadirkan siluet warnawarni alam lebih kaya nuansa dari pada pelangi.


Telaga - telaga itu terus berserak di kaki Bukit Pangonan, sebelah barat bernama Telaga Merdada yang eksotik, dan Telaga Suwiwi di Kepakisan yang penuh sensasi, serta Telaga Dringo yang akan menikam rasa siapapun yang dating untuk berlama-lama menikmati keelokannya. langan lupa ada Telaga Balaikambang di timur Gedung Soeharto  Whitlem yang menjadi penyangga keseimbangan kontur tanah sekitar Kompleks Candi Pandawa. Di Bukit Pangonan juga ada dua telaga, masing - masing Telaga Sumurup dan Telaga Nirmala.
Dalam ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut, suhu Dieng menjadi hawa yang sensasional pada 20-22 derajat Celcius. Pada musim hujan kabut laksana selimut menghangatkan tubuh, namun di musim dingin cuaca bisa ekstrem hingga di bawah 10 derajat Celcius. Bahkan ada tiga hari pada bulan ]uli atau awal Agustus suhu udara Dieng berada di nol derajat hingga menghadirkan hujan salju. Masyarakat lokal menyebutnya sebagai "embun upas", yang membakar seluruh tanaman perdu hingga hangus sehangus - hangusnya, membawa petani pasrah beratus juta rupiah nilai tanaman kentang hilang dalam semalam.

Kaya Potensi

Dalam siluet relief panjang, gugus bukit, jurang ngarai, lereng tarasering dan dataran tinggi, lahan pertanian menjadi ancaman konservasi, namun juga menghadirkan panorama khas Dieng.
Paket Wisata | Rental Mobil | Penginapan